Akademisi Mulai Beri Masukan Terhadap Revisi UU PPHI arsip by Pengacara Balikpapan Samarinda hp/wa 08123453855

Artikel Kumpulan revisi uu by Pengacara Balikpapan Samarinda hp/wa 08123453855
revisi uu asn
revisi uu kpk
revisi uu asn terbaru 2020
revisi uu asn 2020
revisi uu no 22 tahun 1999
revisi uu ketenagakerjaan
revisi uu asn terbaru
revisi uu perkawinan
revisi uu asn no 5 tahun 2014
revisi uu asn tahun 2019
revisi uu asn bohong
revisi uu agraria
revisi uu buruh
revisi uu bumn
revisi uu bpk
revisi uu baru
revisi uu buruh 2019
revisi uu bpjs
revisi uu bermasalah
revisi uu baru 2019
revisi uu cipta lapangan kerja
revisi uu kpk cnn
revisi uu hak cipta
revisi uu kpk cacat formil
revisi uu kpk detik.com
revisi uu kpk tempo.co
revisi uu asn detik.com
revisi uu pas napi boleh cuti dan jalan jalan ke mal
revisi uu desa
revisi uu dikdok
revisi uu dilakukan karena tidak sesuai lagi dengan kebutuhan
revisi uu desa 2019
revisi uu dana pensiun
revisi uu dpr
revisi uu dan kuhp
revisi uu desa 2018
efek revisi uu kpk
editorial revisi uu kpk
revisi uu fidusia
revisi uu asn februari 2019
fakta revisi uu kpk
perubahan uu fidusia
uu fidusia
uu+fidusia
revisi uu guru dan dosen
revisi uu guru
revisi uu guru honorer
revisi uu gerakan pramuka
revisi uu gelandangan
revisi undang undang guru dan dosen
revisi uu asn gagal
revisi uu kpk dpr.go.id
revisi uu honorer
revisi uu honorer k2
revisi uu ham
revisi uu hewan ternak
revisi uu haji
revisi undang undang honorer k2
revisi undang undang ham
revisi uu ite
revisi uu ite terbaru
revisi uu ite 2016
revisi uu ite tahun 2016
revisi uu ite pasal 27 ayat 3
revisi uu ite dan penerapannya
revisi uu ite no 19 tahun 2016
revisi uu ite 2008
revisi uu jaminan fidusia
revisi uu jokowi
revisi uu asn januari 2018
revisi uu kpk jurnal
revisi uu kpk jokowi belum tahu isinya
revisi uu asn honorer bisa jadi pns
jurnal revisi uu kpk pdf
revisi uu kpk yg ditolak jokowi
revisi uu kuhp
revisi uu kpk disahkan
revisi uu ketenagakerjaan pdf
revisi uu kpk dpr
revisi uu kpk pdf
revisi uu kpk melemahkan
revisi uu lansia
revisi uu llaj
revisi uu lapas
revisi uu lalu lintas dpr tolak motor jadi angkutan umum
revisi uu lalu lintas motor
revisi uu lingkungan hidup
revisi uu lgbt
revisi uu minerba
revisi uu md3
revisi uu migas
revisi uu md3 pdf
revisi uu md3 terbaru
revisi uu mk
revisi uu minerba 2018
revisi uu md3 dibatalkan
revisi uu no 5 tahun 2014
revisi uu narkotika
revisi uu no 1 tahun 1974
revisi uu no 12 tahun 2011
revisi uu no 7 tahun 2017
revisi uu no 32 tahun 2004
revisi uu narkotika 2020
 

SELASA , 18 OKTOBER 2016, IndoLawyernews.com, Jakarta – Komisi IX DPR mulai membahas revisi UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Kali ini Panja DPR meminta masukan sejumlah akademisi.
Pensiunan dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya, Umu Hilmy, mengatakan jika arah revisi UU PPHI itu ujungnya akan membentuk lembaga baru penyelesaian perselisihan hubungan industrial, sebaiknya lembaga itu tidak berada di bawah pemerintah daerah.
Jika berada di bawa pemerintahan daerah, Umu khawatir lembaga ini mudah diintervensi kepala daerah. Ia melihat peluang itu besar, sebab saat ini saja pengusaha yang melanggar hak normatif seringkali tidak dijerat sanksi karena pengawas ketenagakerjaan diinternvensi kepala daerah. Sehingga pengawas menghentikan kasus yang mereka tangani.
Undang-Undang perselisihan Hubungan Industrial

Umu mengingatkan hukum acara UU PPHI sangat ketat sehingga menuntut keahlian para pihak untuk mampu beracara di pengadilan hubungan industrial (PHI). Dalam konteks ini harus diakui bahwa kedudukan buruh lemah ketimbang pengusaha. Walau dalam praktik ada pengacara yang membantu buruh berperkara di PHI tapi Umu mencatat jumlahnya sangat sedikit. Kebanyakan, buruh atau serikat pekerja yang berperkara di PHI tanpa didampingi pengacara. Sementara pihak pengusaha tergolong mudah menyewa pengacara bonafid untuk beracara di PHI.
“Karena tidak menguasai hukum acara, buruh kerap kalah di PHI. Itu patut dicermati dalam merevisi UU PPHI” kata Umu dalam rapat Panitia Kerja (panja) RUU PPHI di ruang sidang Komisi IX DPR, Selasa (06/10).
UU PPHI juga membuka peluang untuk memperselisihkan hak-hak normatif buruh. Padahal, hak-hak normatif itu wajib dipenuhi, jika dilanggar sanksi harus dijatuhkan. Sayangnya, selama ini hal itu tidak terjadi karena perselisihan hak seperti upah buruh yang dibayar di bawah upah minimum dan buruh tidak diberi cuti hamil seringkali masuk ranah perselisihan hubungan industrial. Mestinya, itu menjadi hak-hak normatif buruh yang wajib dipenuhi dan ditegakkan.
Harusnya, Umu melanjutkan, pelanggaran hak-hak normatif itu tidak perlu masuk sampai PHI, tapi cukup petugas pengawas yang menjatuhkan sanksi kepada pengusaha. “Akibatnya saat ini pengusaha bebas dari sanksi ketika melanggar hak-hak normatif buruh karena kasusnya masuk sampai PHI,” ujarnya.
UU PPHI menempatkan pengusaha dan buruh pada kedudukan yang sama. Padahal, posisi pengusaha hakikatnya lebih tinggi ketimbang buruh. Sekalipun bangkrut, kata Umu, pengusaha masih punya dana untuk menyewa pengacara berperkara di PHI. Tapi ketika buruh sudah tidak mendapat upah mereka dan keluarganya akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, apalagi untuk memperjuangkan hak-hak mereka sampai PHI dengan menyewa pengacara.
Untuk itu Umu menyebut pemerintah harus hadir dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial terutama perlindungan terhadap buruh. Menurutnya negara harus hadir menjalankan peran tersebut. “Maka perspektif perlindungan terhadap buruh dan serikat buruh itu harus ada dalam revisi UU PPHI,” usulnya.
Dosen FH Universitas Airlangga, Herlambang P Wiratraman, mengusulkan agar proses penyelesaian melalui PHI dihentikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan 2005-2007, Herlambang menyimpulkan pelaksanaan UU PPHI keliru untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial dalam bentuk PHI. Ini juga diperkuat hasil kajian Komisi Hukum Nasional di 7 wilayah industri di Indonesia. KHN menyarankan Pemerintah perlu berperan dalam menyelesaikan masalah perselisihan hubungan industrial.
Herlambang menuding UU PPHI lahir karena ada tekanan dari lembaga-lembaga keuangan internasional yang ingin meminjamkan utang kepada pemerintah Indonesia. Terbitnya UU PPHI menyebabkan pasar tenaga kerja di Indonesia makin liberal atau dikenal pasar tenaga kerja fleksibel. Kondisi nasional ketika itu juga mendukung diterbitkannya UU PPHI.
Dengan lahirnya UU PPHI maka perselisihan hubungan industrial bisa dibawa ke ranah PHI. Kedudukan buruh dan pengusaha dianggap sama. Akibatnya pemerintah tidak berperan lagi dalam pemenuhan HAM terhadap buruh. PHI juga membatasi ruang negosiasi buruh karena tidak memberi kesempatan bagi gabungan serikat buruh untuk berunding menyelesaikan perselisihan hubungan industrial yang dihadapi. Menurutnya, hal itu bertentangan dengan konvensi ILO No. 154 Tahun 1981.
“Ruang negosiasi bagi gabungan serikat pekerja untuk menyelesaikan masalah hubungan industrial ditutup oleh mekanisme PHI. Oleh karenanya yang terjadi di PHI adalah pertarungan antara buruh dengan pengacara yang dibayar pengusaha,” urai Herlambang.
Herlambang ikut menyoroti lokasi PHI yang hanya ada di tingkat provinsi. Menurutnya itu menyulitkan buruh terutama yang bekerja di lokasi yang jauh dari provinsi. Akibatnya buruh yang berada di lokasi terpencil itu minim perlindungan, seperti buruh di sektor perkebunan.
Herlambang berpendapat sebelum UU PPHI diterbitkan, peran negara hadir dalam panitia penyelesaian perselisihan perburuhan daerah (P4D) dan panitia penyelesaian perselisihan perburuhan pusat (P4P). Namun dengan dibentuknya PHI peran negara untuk melindungi buruh dicabut. “Revisi sistem PPHI harus menempatkan negara dalam konteks pemenuhan HAM sesuai mandat konstitusi. Negara harus hadir melindungi buruh,” paparnya.
Untuk itu Herlambang mengusulkan agar revisi UU PPHI mengarah pada pembentukan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang sifatnya seperti P4D dan P4P. Namun, putusannya tidak boleh menjadi obyek PTUN sehingga putusan yang diterbitkan itu memiliki kepastian hukum.
Dosen FH Atma Jaya, Daniel Yusmik, menekankan peran negara untuk melindungi buruh harus ada dalam revisi UU PPHI. Ia melihat peran negara itu ada di tiga lembaga yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif. Praktik PHI selama ini menggunakan hukum acara perdata sehingga posisi hakim pasif. Itu menunjukan minimnya peran yudisial dalam melindungi buruh. “Posisi buruh itu selalu lebih rendah daripada pengusaha. Makanya negara perlu hadir melindungi buruh,” tukasnya.
Daniel menilai hukum acara yang selama ini digunakan di PHI harus diganti karena tidak memberi perlindungan terhadap buruh. Ia mengusulkan hukum acara yang digunakan seperti yang digunakan oleh peradilan Tata Usaha Negara (TUN). Putusan PHI selama ini menurut Daniel tidak punya kekuatan eksekusi, misalnya pada putusan yang intinya mempekerjakan kembali pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Saya merekomendasikan agar UU PPHI ini tidak sekedar direvisi tapi diperbaiki total karena sama sekali tidak melindungi buruh,” usul Daniel.
Mediasi yang berlangsung di dinas ketenagakerjaan dalam menangani perselisihan hubungan indsutrial menurut Daniel kurang efektif. Biasanya setelah proses mediasi dilakukan salah satu pihak yang tidak puas mengajukan gugatan ke PHI. Ia mengusulkan kedepan mediasi itu dilakukan langsung oleh hakim. Ketika mediasi tidak berhasil maka perkara berlanjut di persidangan.
Komposisi hakim adhoc juga perlu ditambah bukan saja mewakili pengusaha, buruh dan pemerintah tapi juga akademisi dan tokoh masyarakat. Ia yakin dengan jumlah hakim yang lebih banyak putusan yang dihasilkan lebih mendekati rasa keadilan. Ia pun mengusulkan putusan yang dihasilkan juga final dan mengikat, tidak bisa dijadikan obyek kasasi atau TUN. “Lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial itu harus ada di setiap kabupaten/kota, kalau perlu ada di setiap kawasan industri agar lebih efektif,” pungkasnya.

Belum ada Komentar untuk "Akademisi Mulai Beri Masukan Terhadap Revisi UU PPHI arsip by Pengacara Balikpapan Samarinda hp/wa 08123453855"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel